BERNALAR KRITIS

Hello sobat literasi, perkenalkan nama Kezia Velimcia Subekti biasa dipanggil Kezia. Di artikel kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya mengenai bernalar kritis. Ketika saya duduk di bangku kelas 6 SD saya diberatkan oleh beberapa pilihan sekolah SMP yang berada di Magetan, antara lain SMPN 1 Magetan, SMPN 4 Magetan, dan SMPN 1 Kawedanan. Dari awal saya mempunyai niat untuk masuk ke SMPN 1 Magetan, tetapi karena rumah saya berada di luar zona tersebut maka saya tidak dapat masuk ke SMPN 1 Magetan melalui jalur zonasi, maka ketika saya ingin masuk ke SMPN 1 Magetan saya harus masuk melalui jalur prestasi yang membutuhkan nilai serta prestasi yang cukup tinggi. Di suatu hari saya di bimbangkan lagi karena terdapat omongan orang-orang yang katanya kecil kesempatan untuk masuk ke SMPN 1 Magetan. "Daripada kamu nanti engga lolos di  SMPN 1 Magetan mending kamu daftar langsung disini saja." ucap beberapa orang kepada saya. Namun dari beberapa kali pertimbangan mengenai kelebihan dan keunggulan yang ada di ketiga sekolah tersebut saya tetap kekeuh untuk masuk ke SMPN 1 Magetan, karena saya berfikir nilai saya juga cukup tinggi serta saya mempunyai prestasi akademik yang bisa digunakan untuk mendaftar ke SMPN 1 Magetan kenapa tidak mencoba dulu, masalah lolos atau tidaknya itu urusan belakang. Suatu hari saat pendaftaran PPDB SMPN 1 Magetan dibuka saya langsung bergegas untuk mendaftar dan tidak sabar menunggu pengumumannya. Ketika sore hari saya cek melalui website SMPN 1 Magetan puji syukur Alhamdulillah saya masih lolos untuk masuk ke SMPN 1 Magetan. Dari pengalaman tersebut saya belajar untuk "Jangan pernah takut mengambil keputusan terhadap suatu pilihan dan jangan takut akan kegagalan." Saya juga mempunyai quote untuk sobat literasi nih,  "Jangan didorong oleh ketakutan di pikiranmu. Tapi, dipimpin oleh mimpi di hatimu." - Roy T. Bennett. Sekian cerita saya  mengenai pengalaman bernalar kritis, see you in the next literature.